Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

KEMBALI PADANYA JUA

Gemeretak nada nadi diri
menghunjam dalam denyut dada
bergejolak bergelinjang tak henti henti
menggetarkan kekalutan
dalam ketemaraman cahaya diri

Relung relung kefanaan makin mendekap
menyumpal celah celah rongga
menggumpal benak makin terdesak
menggelap warna dan cahaya
mengabur lintasan arah dan tujuan

Dalam kekalutan dan kekalutan
terasa diri diri tak sanggup lepas
dari keterkungkungan
menarik napas dan pikir
menggelap mata dan telinga
sementara sumpal dan gumpal
kian menderu mendera
menggelap mengabur diri dalam sendiri

Astaghfirullah
langkah dan arah makin jauh

tanah gambut, 10 juni 2001 (23.18) LANJUT BEB..

MAKIN RINDU

kurasa rindu makin rindu
membumbung tinggi di angkasa
sesaat insani jaga
setelah waktu sekian lama
ingin aku kembali
rasa dan nikmati murni mendekap

tanah gambut, 10 juni 2001 (23.52) LANJUT BEB..

MENGUKIR CAHAYA

terasa sendu menyisih
ketika denyut denyut nada
melata meraba dalam dada
mengukir cahaya membelah celah

tanah gambut, 10 juni 2001 (23.47) LANJUT BEB..

BILA HATI YANG BICARA*)

Pradono


Wahai Anak Negeri
Tegarlah terus berkreasi
Bangunkan bangsamu lewat seni

Walau ia selalu tak peduli
Walau ia sibuk menguras uang negeri

Jangan jadikan dirimu kelinci percobaan
Jangan harga dirimu kaugadaikan
Masih banyak jalan untuk menjadi manusia

Wahai Anak Negeri
Tekadkan jiwa kembali ke hati
Demi eratkan jabat tangan
Demi satukan persaudaraan

Tiada kata tanpa makna bila hati yang bicara
Satukan langkah rapatkan barisan
Padamkan dendam ulaskan senyuman

Sebab Tuhan Maha Penyayang
Kenapa nyawa harus melayang
Sebab Tuhan Maha Penyabar
Kenapa kita jadi gusar

Allahu Akbar
Selamatkan jiwa yang hanya selembar
Siramlah amarah yang berkobar
Padamkan dendam dengan cahaya sabar

(Rekatkan Indonesia, Damaikan Bumi Kalbar)

Wahai Negeri
Jangan cerai beraikan anakmu
Dengan saling benci dan caci maki

Wahai Pertiwi
Jangan asahkan pedang dan belati
Merampas hidup sesama kami
Hingga jiwa tak berharga lagi

Wahai Indonesia
Masih bisakah kita saling bicara
Masih sanggupkah kita jadi manusia

Lantaran negeri ini milik kita
Kenapa harus dihancurkan
Ke mana lagi kaki berdiri
Bila pijakan menjadi bara api


Wahai manusia yang bernama manusia
Haruskah airmata tercurahkan
Untuk sesuatu yang tak terpahamkan
Sudah berhentikah manusia sebagai manusia

Apakah arti kehidupan bila hati tak lagi manusia

Wahai Khatulistiwa
Jalin kembali zamrud
yang tercerabut dari leher Enggangmu

(Suarakanlah Merdu Etikamu)

tanah gambut, 27 maret 2001


*) Puisi ini dibacakan pertama kali sebagai "Orasi Kampanye Anti Kekerasan lewat Seni” oleh Seni Rakyat Anak Kapuas (SERAK) Pontianak, di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu, 31 Maret 2001.
LANJUT BEB..

REFLEKSI PESTA DEMOKRASI KESEKIAN

tersaksi di mata rakyat
tingkah polah para wakilnya
mendepak wajah meja
mendegup dada rakyat

inikah wujud kertas suara
yang tertusuk tanpa suara
berjanji dengan jutaan suara
nikmati kursi empuk tanpa suara


tanah gambut, 2001 LANJUT BEB..
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved