Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

SAJAK HARI KESEKIAN REFORMASI

Apakah yang kubaca tentang Reformasi?
apakah jalan perubahan pada kebaikan
atau hanya sekadar pernyataan
gerak bibir atas dan bawah para petinggi
melahirkan untaian kata dan kalimat
yang terkadang jadi bumerang

Apakah Reformasi itu?
Barang haramkah ia
sehingga perlu undang-undang sebelum bicara
sementara undang-undang tentang bicara
begitu erat dibalut selimut subversif
hingga perlu menghilangkan orang
sembari mencari rumusan paling jitu
sementara para tumbal bertumbangan
sementara para aktor dan mantan bersuka ria
menyusup ke barisan cari mangsa
menikam dari belakang

Reformasi melahirkan konsekuensi
menumbangkan tirani ditebus dengan mati
menumpas kezaliman dibayar penjemputan
melantangkan suara dibantai rumusan sara
menegakkan demokrasi dihadang terali besi

Apa arti Reformasi
kalau hanya basa-basi
mengulur waktu lewat debat politisi
sementara rakyat semakin kehilangan nasi
dan hak asasi
sementara para pembegal mengemas bagasi
dan menumpuk kursi dan dasi

Inikah Reformasi?
Selesaikan masalah
dengan menumpuk masalah
Pusatkan perhatian
dengan mengalihkan perhatian

Inikah Reformasi, hingga hari kesekian?

di tanah gambut, Juni 1999 LANJUT BEB..

SURAT BUAT PAK KIYAI

Maaf, Pak Kiyai
aku tak khatam mengaji
juz amma pun tak hapal
apalagi tak punya referensi

Maaf, Pak Kiyai
mungkin masih terlalu dini
tapi mulut harus berbunyi

Maaf, Pak Kiyai
tentang kabarku hari ini
andai tak kena di hati
jangan disimpan sampai mati
tapi mulut harus berbunyi

Waktu kecil disuruh jujur
supaya dewasa tidak telanjur
Waktu kecil tak boleh bohong
agar dewasa tak jadi pencolong

Tolong, Pak Kiyai
beri fatwa tentang korupsi
beri surat tentang kolusi
beri ayat tentang tirani
yang bertumpuk di desa kami
hingga kami tak mampu mandiri
sebab fulus tak sampai di sini
karena disunat para priyayi
lantaran kami cuma pribumi

Tolong, Pak Kiyai
sebab kami tak berani
siapalah diri ini
di hadapan para petinggi

tanah gambut, 1995 LANJUT BEB..

CATUR

Skak!
kepepet Raja
kasak kusuk Perwira
Menteri maju membela
tapi dijegal Kuda
Gajah coba menghalang
tapi Benteng siap menghadang
Bidak Cuma melirik
tak bisa naik

Skak!
Mat!
Raja wafat
kotak dilipat

Perwira tak sempat menjilat!

ptk, 1994 LANJUT BEB..

LAHIR TAK BERTANAH

Geriap tangis bayi mengoyak fajar dini
mencoba teriakkan kemerdekaan yang pertama

Ia tak merangkak
tak pula mengibaskan tangan
; buat protes
sebab tangisnya dikembalikan
ia tak sanggup melawan
sebab sumsumnya dibalut
tulang tulang rawan

Geriap tangis bayi berkepanjangan
tak sanggup membangunkan ibunya
; baru saja selesai berjuang

ia tak merangkak
tak pula dapat meredam keangkuhan alam
sebab jubah jubah malaikat
makin erat membalutnya

tangis itu
bayi itu
lahir tak bertanah
; tanah tempat ibunya dilahirkan
tanah moyangnya dibesarkan
tanah yang dulu terjajah
tanah yang dulu subur disiram darah
kini diinjak injak penjajah
yang juga keturunan ibu dan moyangnya

ptk, 8/93 LANJUT BEB..

KUTULIS SAJAK

Kutulis sajak
pilihan penampang
mencurahkan nurani

Kutulis sajak
menangkap riak
mengapung
mengambang
di muara jiwa

Kutulis sajak
persinggahan terakhir
menuntaskan rasa
bagi hidup yang hidup

ptk, 27/6/93 (04.00) LANJUT BEB..
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved