Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

Episode Duka di Tanah Rencong

Aku tak punya kata kata
Aku kehilangan kata kata
buat lukiskan peristiwa dan bencana
nestapa yang menimpa saudara kita
Nangroe Aceh Darussalam,
Nias, Deli Serdang di Sumatera Utara

Harta yang berdiri megah
telah rebah tersapu air bah
Nyawa yang hanya selembar
telah melayang dan terhampar
Segala makhluk tersapu badai tercerai berai

Anak anak kehilangan ibu ayah
Ayah ibu kehilangan anak
Suami kehilangan istri, istri kehilangan suami
Saudara kehilangan saudara
Semua kehilangan harta dan nyawa
Hidup bersama kini sebatangkara
Bahkan kehidupan kini tiada

Aceh, Nias, Deli dan Sumatera Utara
Akupun turut berduka
berbelasungkawa atas derita yang kaurasa
Indonesia Menangis, Indonesia Berduka
menghimpun segala milik yang dipunya
berharap mengurang sedikit lara

Segala bencana, gempa bumi, tsunami
adalah rencana Yang Maha Perkasa
adalah tanda tanda kebesaran dan kekuasaan
Sang Khalik, Yang Maha Pemilik
Dialah yang mencipta,
Dia jualah yang akan mengambilnya

Allahu Akbar
Tiada yang lain Engkaulah Yang Maha Besar
Ya Allah,
Tiada banding dan tanding kebesaran dan kekuasaanMu
Cukuplah segala yang Kau sebar
menjadi hikmah dan iktibar
bagi yang mau berpikir dan belajar

Innalillahi wainna Ilaihi radji'uun

Pontianak, 30 Desember 2004
23.49 WIB

PontianakPost, Minggu, 9 Januari 2005

LANJUT BEB..

Ujian Hati Nurani Pansus SOPD DPRD

Tulisan ini merupakan refleksi dari proses perjalanan berkesenian di Kalimantan Barat yang dilakoni oleh para pekerja dan pencinta seninya, paling tidak sejak pertengahan tahun 2003 hingga hari ini.

Dari riak gerak kreativitas para pekerja seni tersebut, sedikitnya tercatat beberapa momentum penting yang kesemuanya memberikan kontribusi nyata bagi terangkatnya harkat dan martabat Kalimantan Barat di forum-forum regional, nasional, dan internasional.

Tak perlu dijelaskan lagi momentum yang dimaksud karena kesemuanya telah terekspose secara luas di berbagai media massa, tambahan tulisan ini secara khusus ditujukan kepada para penguasa di daerah ini sehingga diharapkan dengan hati terbuka dan tak berpikir picik sanggup menjadikan kontribusi nyata para seniman daerah ini sebagai pertimbangan dalam merumuskan dan mengambil kebijakan di bidang kesenian dan kebudayaan di Kalimantan Barat.

Dan refleksi ini dikhususkan lagi pada soal "terobosan" terkini eksekutif Pemprov Kalbar yang menyodorkan konsep melembagatekniskan beberapa dinas menjadi badan-badan, terutama dengan menggabungkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan Badan Informasi Daerah menjadi Badan Informasi Promosi Pariwisata dan Kebudayaan, yang digodok oleh Pansus SOPD DPRD Kalbar.

Perlu digarisbawahi bahwa dengan sadar para seniman alias pekerja seni di daerah ini sangat memahami hal-hal mana yang menjadi urusan internal pemerintah yang tak bisa dicampuri oleh pihak luar. Persoalan lembaga dan struktur, terutama institusi seni budaya bentukan pemerintah itu mau diapakan dan dikemanakan agaknya itu urusan pemerintah.

Namun, apa salah ketika para seniman, budayawan, dan masyarakatnya menyampaikan aspirasi dan memberikan masukan-masukan sehingga sebelum terlambat segala kebijakan pemerintah tidak berdampak pada terberangusnya eksistensi kesenian dan kebudayaan sebagai kekayaan dan aset daerah ini serta dibumihanguskannya pijakan dan wadah berkreasi dan berekspresi para seniman dan budayawan di negeri ini.

Sekadar saling mengingatkan, barangkali tak ada tabunya kita merenungkan sebuah pernyataan klasik bahwa "seni budaya merupakan salah satu pilar tegaknya suatu bangsa" yang agaknya masih tetap relevan dalam segala zaman dan keberlangsungan kehidupan manusia, di manapun ia berada dan berbangsa. Bagi bangsa Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, yang masyarakatnya plural, heterogen, majemuk dan ber-Bhinneka Tunggal Ika realita ini menjadi suatu ikon keindahan bagaikan untaian manik mutu manikam dalam jalinan Zamrud Khatulistiwa demi mencapai suatu taraf kehidupan yang dinamis dan harmonis.

Oleh karena itu, segenap warga negara Indonesia serta masyarakat Kalimantan Barat mesti memberikan ruang dan atmosfir bagi tumbuh dan berkembangnya pelbagai potensi, eksistensi dan keberagaman khasanah seni budaya ini demi mencapai taraf kehidupan yang dinamis dan harmonis tersebut ketika kita masih merasa bangga menyebut diri sebagai manusia yang berbudaya dan beradab, bukan sekadar lips service.

Upaya ini tidaklah semata-mata menjadi tugas dan tanggung jawab seniman dan budayawan sebagai praktisi. Salah satu faktor yang menentukan terhadap upaya mewujudkan peningkatan apresiasi seni dan kebudayaan yang ingin kita kembangkan adalah peran para seniman dan budayawan, yakni sebagai ujung tombak dalam memelihara cipta, karya, dan karsa apresiasi sebuah nilai budaya. Namun, seniman sebagai benteng dan katalisator terhadap infiltrasi budaya luar yang bernilai negatif hendaknya senantiasa didorong ke arah yang kondusif untuk meningkatkan kreativitas dan inspirasi seni dalam rangka memelihara kebudayaan dan seni bangsanya.

Sedangkan sebagai otokritik, pihak seniman dan budayawan sendiri mesti senantiasa tetap komit dan berkesungguhan hati dalam memajukan seni budaya bangsanya, khususnya Kalimantan Barat. Dengan demikian, pada akhirnya semua pihak dapat saling bersinergi satu sama lain demi memperindah rangkaian manik mutu manikam dalam jalinan Zamrud Khatulistiwa.

Akhirulkalam, apa yang diputuskan oleh para petinggi dan penguasa daerah ini, terutama yang berkaitan dengan eksistensi seni budaya serta seniman dan budayawan daerah ini tidak semata-mata sekadar memuaskan nafsu dan keinginan pribadi dan sekelompok golongan sehingga sebagai abdi masyarakat serta pemegang amanah dan wakil rakyat, tetap menjadi manusia-manusia yang berbudaya dan beradab yang dilandasi hati nurani dan moral yang bersih.

Pada akhirnya, segenap warga dan rakyat negeri ini akan menyaksikan betapa para birokrat eksekutif yang pengen berkuasa kembali tetap harum namanya dan para wakil rakyat yang bakal duduk semakin tinggi integritasnya dan tak melupakan janji-janjinya serta bagi yang bakal lengser tidak mengkhianati hati nuraninya sendiri lantaran takut tak dapat pesangon terakhir dengan alasan kalah dalam voting.(Penulis adalah Pendiri/ Mantan Ketua Sanggar Kiprah FKIP Untan dan Ketua Ikatan Pencinta Sastra Kota Hantu (IPSKH) Pontianak)
PontianakPost, Rabu, 16 Juni 2004

LANJUT BEB..

Kisah Tak Berujung

Merah Putih tercabik-cabik di Bumi Kopyang
Lambangkan perilaku jahiliyah tak terhalang
Atas para syuhada yang rebah bersimbah darah


Terfitnah mendurhaka Jepang si penjajah

Merah Putih tercabik-cabik tercabik-cabik
Luluh lantak tercabik-cabik
Sementara tiap jiwa setiap masa diam tak berkutik
Entahkah kesedihan dan keperihan menitik
Ataukah bisu seribu bahasa sejuta muslihat dan taktik

Inikah balas jasa anak bangsa yang meraup jaya
Atas nama para syuhada tak berdaya
Ya, apatah mereka tak berdaya
Di selaput pandang mata tak bermata
Di gumpal hati mati tak bernyawa
Di lubuk kalbu tak bermalu para pendurhakanya

Mandor, kausingkap kedurhakaan anak bangsamu
Kaulah tragedi setiap generasi sepanjang waktu
Kaulah kisah tak berujung para anak cucu

Apatah para syuhada harus bicara
Atas angkara yang merobek Merah Putihnya


DI SEBUAH KAWASAN. HAMPARAN LUAS PASIR PUTIH. LUBANG-LUBANG MENYERUPAI DANAU TERSEBAR DI BEBERAPA TEMPAT. DI KAWASAN ITU PULA, LEBIH DARI DUA BUAH MESIN-MESIN PENAMBANG EMAS TANPA IZIN SEDANG BEROPERASI. TERLIHAT BEBERAPA ORANG PEKERJANYA SEDANG SIBUK MENGAMATI HASIL GALIAN MESIN TERSEBUT. TANPA SEPENGETAHUAN PARA PEKERJANYA, BEBERAPA TOKOH YANG ENTAH DATANG DAN BERASAL DARI MANA, TAMPAK SEDANG BERDEBAT. ENTAH APAPULA TEMA DAN TOPIKNYA.

+ Apa yang dapat ditinggalkan bagi anak cucu ketika permukaan mayapada hanya hamparan kegersangan?

- Ah. Kau hanya berfilsafat dengan retorika murahan. Apa kau tak punya nalar yang lebih berbobot dan realistis!

+ Apa?

- Ingat, kawan! Kita menginjak bumi kasat mata. Kita berdiri di atas hamparan realita. Aktifkanlah sinyal pancainderamu. Bukalah telinga, dengarkan gemuruh masa depan lewat mesin-mesin pencipta lembar-lembar kekuasaan ini.

+ Apa!

- Apakah tak kaurasakan di seluruh urat nadi mereka mengalir denyut-denyut masa depan? Apakah tak kaudengarkan gemerincing kemilau kemakmuran? Ah, kawan. Engkau terlalu sentimentil. Apalah artinya retorika tanpa masa depan!

+ Apakah aku tidak sedang bermimpi?

- Kawan. Sudah aku katakan kita berdiri di atas hamparan realita!

+ Jadi?

- Kawan. Engkau telah mempertontonkan kebodohanmu sendiri. Bagaimana engkau sanggup berjuang dan memperjuangkan. Bisamu hanya berpatah-patah kata. Membuka cerita tanpa alur dan kesimpulan. Apa? Apa! Jadi? Hanya itu yang kaubisa katakan. Ah. Jenis sepertimu inilah makanan empuk para nafsu berkuasa. Engkau tak lebih seekor lalat comberan yang sekali jentik, .... plek, plek, plek ... mampus! Jadi, aku tak salah. Engkau hanya menjual retorika murahan ...!

Rupanya sang dewa realita telah turun dengan wejangan-wejangan agungnya. Rasa ingin tahuku semakin menggebu-gebu, gerangan apa yang telah terjadi. Apakah aku telah kehilangan tema. Boleh aku nimbrung dalam majelis agung ini ....

+ Dengan penuh ketulusan. Siapapun berhak berada di sini. Inilah ruang tanpa kelas dan status. Ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Ruang tanpa prasangka.

Terima kasih, kawan-kawan. Tampaknya realita telah pula menjelma menjadi dewa yang begitu mudahnya masuk ke segenap ruang jiwa. Jiwa yang hampa seperti kawan kita yang satu ini.

+ Realita menurut kawan kita ini adalah realita itu sendiri. Tak perlu diperdebatkan lagi keberadaannya, tapi cukup disaksikan saja sehingga tak lagi nyata di selaput pandang mata tak bermata. Tak lagi bermakna di gumpal hati mati tak bernyawa. Tak lagi bercahaya di lubuk kalbu tak bermalu. Apakah lagi ketika meluncur dari suara bijak sang dewa realita kita ini.

- Apa!?

Ah, ke mana arah pembicaraan ini. Kudengar tadi katanya kita ini berada di ruang tanpa prasangka, tapi rupanya kalian semakin jelas dan tegas berpijak pada dua kutub yang berbeda. Rupanya aku telah ketinggalan orientasi. Baiklah, ada yang ingin menjelaskan....?

- Awalnya, adalah soal manusia dan alam lingkungannya. Pencipta mereka telah memberikan anugerah hidup dan kehidupan bagi keduanya. Kedua pihak ini masing-masing diberikan amanah, hak dan kewajiban. Tentu dengan konsekuensi masing-masing pula.

+ Jelas maksudnya. Siapa berbuat dialah yang memetik hasilnya. Itulah yang disebut realita oleh kawan kita ini. Jadi, menurutku tinggal bagaimana manusia itu sendiri bisa memisahkan mana yang benar dan tak benar. Mana yang haknya dan mana yang hak pihak lain. Bumi dan segala isinya telah disediakan oleh Sang Maha Pencipta sebagai sumber rezeki. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya.

- Ya. Realita adalah realita yang sudah semestinya bermakna hasil yang dipetik. Pihak manusialah yang paling bertanggung jawab atas segalanya karena merekalah yang dibalut oleh keinginan dan nafsu. Sedangkan alam sekalipun juga bernama makhluk, agaknya lebih berada pada posisi pasif dan pasrah. Mereka ibarat barang-barang stok dan pelayan sekaligus. Itulah realita. Lagi-lagi ... re-a-li-ta. Lalu, apa yang mesti kita perdebatkan lagi. Semua telah berjalan sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Penciptanya.

+ Sekeliling kita berdiri ini hanya hamparan pasir putih. Lubang kawah di mana-mana. Deru suara mesin-mesin itu kedengarannya semakin bernafsu menyedot kemilau isi bumi: masa depan dan kemakmuran menurutmu, bukan? Pohon-pohon yang berdiri itu kelihatannya takkan bisa lebih lama lagi mempertahankan dirinya dan segera rebah. Akhirnya, takkan lebih lama pula para manusia dan nafsunya akan memetik hasil perbuatan mereka.

Bumi mana yang kita pijak ini?

- Mereka menyebutnya Mandor.

Mandor ... Mandor ... Mandor. Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu. Man-dor! Ya. Mandor! Apakah yang kaumaksudkan Mandor itu adalah ladang pembantaian satu generasi Negeri Khatulistiwa bernama Kalimantan Barat yang dilakukan oleh fasis Dai Nippon itu?

+ Tepat sekali! Tapi rakyat negeri ini lebih mudah menyebut fasis itu dengan penjajah Jepang. Menurut sejarah negeri ini, penjajah inilah yang telah membantai satu generasi dari berbagai kalangan, status dan profesi sebagai tokoh-tokoh unggulan rakyat negeri ini, yang mereka anggap telah mendurhaka kepada Dai Nippon.

Apakah ini alasan realistis para fasis itu?

- Maksudmu?

Ya. Apakah tidak lebih realistis bahwa fasis itu sesungguhnya mengincar kandungan isi bumi negeri ini, yang Anda sendiri menyebutnya sumber kemakmuran dan masa depan itu? Mereka adalah penjajah! Bukankah mereka ketika itu sedang berperang? Mereka adalah musuh bagi musuh yang lain! Bukankah mereka perlu modal dan sekaligus masa depan untuk dibawa pulang ke negeri asal mereka setelah perang berakhir? Boleh jadi mereka telah mendengar bahwa isi perut bumi Mandor ini berkemilau emas. Ah, Anda seperti tak paham saja tabiat para penjajah.

+ Ya. Kukira ada benarnya juga. Mereka mungkin terlalu percaya diri bahwa merekalah sang pemenang. Ternyata sejarah berbicara sebaliknya. Pembantaian rakyat negeri ini adalah realita yang lain lagi. Mereka anggap inilah alasan realistis atas realita yang lain. Sebut saja suatu ketakutan dari terbongkarnya sebuah skenario besar atas niat sesungguhnya Dai Nippon menguras isi perut Mandor sehingga dengan berbagai tipu muslihat mengajak para petinggi negeri ini dengan alasan bermusyawarah untuk memikirkan nasib dan masa depan negeri ini karena akan dijajah oleh bangsa lain.

Padahal sesungguhnya pihak Dai Nippon itu telah kalah karena negeri asal mereka telah dibumihanguskan oleh tentara Sekutu, musuh yang lain bagi mereka. Jadi, mereka membantai para tokoh unggulan dan puluhan ribu nyawa yang lain itu agar tidak memberontak karena mereka telah kehilangan kekuatan. Begitu maksud Anda?

+ Ya! Begitu kira-kira.

- Lalu, kesan apa yang kalian tangkap?!

+ Rupanya ada juga retorika murahan andalanmu.

- Apa peduliku! Kau sendiri mengatakan bahwa ini adalah ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Tidakkah kausaksikan bahwa generasi berikut negeri ini lebih bernafsu menggali isi perut buminya dibandingkan menggali kebenaran sejarah yang menimpa para patriot pendahulunya. Apakah ini bukan kelanjutan propaganda skenario Dai Nippon itu? Apakah ini bukan perlambang bahwa perilaku jahiliyah tetap akan abadi dan tak terhalang? Padahal para syuhada mereka rela rebah bersimbah darah demi mempertahankan setiap jengkal milik mereka. Nama apa yang pantas kausandangkan atas perilaku generasi penerus mereka ini?

+ Baik. Lalu apa semestinya yang dilakukan generasi penerus para syuhada negeri ini?

- Seperti katamu, retorikaku murahan. Aku tak ingin menggurui mereka apa yang semestinya mereka perbuat. Mereka adalah generasi para cerdik cendekia negeri ini. Mereka seharusnya sudah mengerti apa yang seharusnya. Bukankah mereka telah diajarkan lewat sebuah adagium bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya”? Bukankah itu sudah cukup menjadi pedoman bagi mereka?

Begini saja, kawan-kawan. Rakyat negeri ini adalah generasi para pejuang. Biarkan mereka terus memperjuangkan kehormatan negerinya. Para pendahulu mereka telah rela mengorbankan jiwa raga demi Ibu Pertiwi-nya. Tentu saja, di antara mereka ada yang hidup hanya demi memenuhi keinginan nafsu mereka. Untuk itu mereka disebut para pengkhianat bangsa sendiri. Menurutku, di atas bumi yang kita injak ini tengah berproses apa yang kusebut neokolonialisme. Mungkin kalian lebih suka menyebutnya neoimperialisme. Atau apalah namanya itu.

+ Ironis, memang. Bangsa yang katanya telah merdeka ini ternyata dijajah dan dikuras kembali oleh saudara sebangsanya. Mungkin sebutan yang tepat bagi mereka ini adalah kolonial berambut gelap. (Mandor, 9 Mei 2004)
LANJUT BEB..

Busyet, Prestasi Pemusik Kalbar

Busyet! (kata orang Betawi). Gara-gara prestasi budak-budak pemusik Kalbar di forum Nasional, membuat saya terpaksa harus dua kali merasa bangga.

Bagaikan singa yang dibangunkan dari tidurnya, mereka langsung mengaum dan memangsa applaus dan decak kagum masyarakat seni, pengamat dan pakar-pakar musik nasional. Paling tidak, oleh dua prestasi prestisius terakhir ini. Pertama, prestasi sebagai Penampil Terbaik dalam even Festival Seni Pertunjukan di Banjarmasin lewat garapan Eksperimentasi Musik Teatrikal Balada Aki-Aki beberapa waktu lalu. Kali keduanya, penampilan dalam Surabaya Full Music III bertajuk Ketika Musik Bicara, 25 Juni 2003, di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, lewat komposisi Borneo Rhapsody.

Itulah yang membuat saya terpaksa membuat tulisan ini, hitung-hitung berbagi kebanggaan bersama masyarakat Kalbar karena musik dan pemusik Kalbar pun tak cuma jago kandang serta memaklumatkan kepada kita bahwa seniman juga berperan dan tetap berniat menjaga dan memelihara nama baik dan martabat daerah ini. Bahkan, sebagai sisa kebanggaan yang harus saya tuntaskan, gebrakan budak-budak musik Kalbar ini pun berhasil mengundang naluri kewartawan media nasional sekelas Kompas, lantaran komposisi garapan Borneo Rhapsody “Harmonis dalam Etnis” oleh Gunawan ZM, Paul Putra dan Hamidi ini mengandung daya tarik dan magnet tersendiri. Atau dalam bahasa media, memang layak berita, layak muat dan Insya Allah layak jual. Amin.

Padahal sebelumnya, ketika tim Taman Budaya Kalbar ini melakukan Gladi Bersih menjelang keberangkatan ke Surabaya, saya dengar (kalau salah tolong dibetulkan) Borneo Rhapsody sempat dituding sebagai suatu garapan yang tak nyambung dan tak harmonis. Celakanya, disebut juga tak layak tampil di sebuah kafe (kafe mana yang dimaksud, sayapun tak paham) oleh salah seorang undangan yang hadir untuk dimintai masukan.

Namun, mari sejenak kita menoleh realitas eksistensi seni dan seniman di negeri ini. Kurang apa sih Jakarta ataupun Surabaya, misalnya, dalam soal musik dan bermusik, yang mungkin sampai saat ini, masih ada sebagian kalangan yang menjadikan keduanya sebagai kiblat dan barometer di Tanah Air tercinta yang kini tengah tercabik-cabik ini. Bahkan barangkali di sana setiap hari lahir jago-jago, pakar dan sarjana-sarjana seni (musik), sehingga masyarakat seni pun dapat terbentuk dan terbina.

Bila dibandingkan dengan realitas di kampung halamanku, Kalbar ini, jangankan masyarakat seni, masyarakat tari, masyarakat teater, masyarakat musik ataupun masyarakat seni rupa saja masih jauh panggang dari api. Belum lagi bila disebut kritikus seni, rasa-rasanya (semoga saja salah) pun masih belum terlahirkan. Lalu, bagaimana dengan kaum akademisi, elite alias pejabat negeri Zamrud Khatulistiwa ini? Wah, mereka yang benar-benar peduli, paling tidak mengapresiasi seni lewat menonton pertunjukan seni saja, agaknya (semoga salah lagi) masih belum cukup hitungan sebelah tangan.

Namun, anehnya, mereka-mereka ini, terutama para pejabat daerahnya, barangkali karena didorong oleh rasa kesadaran yang tinggi untuk setor muka, setor tampang dan setor lidah, tiba-tiba saja berduyun-duyun memadati gedung pertunjukan, sebut saja misalnya di Taman Budaya Kalbar, kalau seniman yang datang itu dari Jakarta atau luar negeri, seperti dari Sarawak dan Malaysia tempo-tempo hari. Mungkin, hitung-hitung untuk buang malu alias karena khawatir takut dibilang tak punya apresiasi seni. Entahlah!

Anehnya lagi, entah dari siapa dan darimana mereka tahu akan kedatangan tamu-tamu itu. Padahal, setiap kali ada pertunjukan seni oleh seniman-seniman daerah ini, batang hidung mereka pun tak kelihatan. Apa kurang lebih besarkah baliho yang terpampang jauh hari sebelum pertunjukan di Taman Budaya, di Jalan A. Yani yang menjadi jalur lintasan para pejabat elite di daerah ini? “O, mereka kan pake mobil, laju dan tertutup kaca rayben, mana mungkin baliho kelihatan!”

Busyet! Kalau begitu, mungkin juga balihonya yang salah pasang, asal pasang atau terlalu warna-warni atau terlalu meriah atau masih kurang lebih besar? Busyet! Kalok begitu, saya tambah penasaran. Pasti ada yang salah ini, apakah salah langkah atau salah urus. Ada solusi untuk ini?

Busyet! Barangkali ini pula yang membuat kaum berduit dan para elite daerah ini enggan peduli dan mendukung para seniman di daerahnya sendiri, sehingga lebih senang terbang ke luar untuk berakhir pekan menikmati sajian-sajian dan pertunjukan di hotel-hotel berbintang dan kafe-kafe elite di sana –happy-happy sambil lobi, apalagi “Ketika Musim Suksesi Tiba”.

Busyet! Apakah dengan begini seniman-seniman daerah ini akan dan akan terus dipinggirkan dan terpinggirkan, meskipun secara de facto dan de jure mereka telah berprestasi dan berhasil membawa dan menjaga nama baik dan martabat Kalbar, baik di forum nasional maupun mancanegara? Tidak kalah dengan bidang yang lain, olahraga, misalnya.

Padahal, sampai detik ini, paling tidak di Republik ini, belum ada seni dan seniman sejati yang berniat menggulingkan pemerintahannya, menciptakan pertikaian dan perang serta aktivitas-aktivitas yang meresahkan dan mengorbankan rakyatnya, kecuali sebagai lem perekat atas setiap disintegrasi bangsa, etnis, ras dan sebagainya. Istilahnya, habis perang baru mencari seniman atau budayawan untuk ngomong. Yang berkuasa dan bersenjata entah ke mana?

Lalu, apa ada yang salah dengan seni dan seniman? Apakah posisi seniman, seperti yang masih dianggapkan masyarakat hanya sebagai alamat segala ketidakberesan, terutama yang terlihat pada cara hidup kebanyakan ABG dan remaja kita, sehingga, entah dapat referensi dan belajar darimana seorang Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, dalam sebuah acara Gelar Seni Pelajar di Taman Budaya Kalbar, beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa anak-anak (pelajar) jangan diajarkan kesenian, nanti jadi senewen.

Busyet! Kalau begitu, demi mengukuhkan eksistensi dan harga diri, seniman-seniman daerah ini harus segera berbuat sedemikian rupa sehingga perlu berdialog dan membahas segala sesuatunya, baik oleh sesama seniman, seniman dan publiknya, seniman dan media massa, seniman dan pemerintah, dan sebagainya, dan sebagainya.

Ketika kita bercita-cita ingin membina dan menciptakan perdamaian serta character building (kontras dengan hasil pembinaan olahraga, misalnya, yang masih gemar berkelahi di layar TV bahkan wakil rakyatpun tak mau ketinggalan), maka tugas ini tak sepantasnya hanya menjadi kewajiban seniman.

Segenap potensi dan elemen bangsa dan negeri ini harus bersinergi dan berangkul tangan. Bagaimana? Siapkah kita bersikap tulus membangun negeri ini serta bersama-sama menjalin kembali butir-butir zamrud yang tercerabut dari leher Enggang Khatulistiwa ini? Kapan kita mulai?

Penulis adalah Penggagas dan Pendiri Komunitas Lesehan Pontianak (Klepon)
LANJUT BEB..

DEPAN CERMIN

dalam sendiri di depan cermin
tergambar jelas siapa diri

tanah gambut, 3/02/02 (23.12) LANJUT BEB..
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved