Ada apa di balik wajah wajah resah
: kerut kerut bergelombang dalam jiwa
yang tak mudah ditafsirkan begitu saja
Itulah warna hidup dan kehidupan
bagi makhluk berpredikat manusia
: membuat pernyataan dan pertanyaan
dan penjelasan lisan
Itulah kehidupan manusia
yang tak selalu dapat merumuskan
pertanyaan
dan pernyataan dengan lisan
Itulah kita
Apa ada kesenduan dan keresahan
di balik wajah wajah
yang selalu dapat berlisan dan berkata?
Itulah hidup dan kehidupan manusia
Lisan tanpa ditanya
sering bermain aneka peran
dan perang
dingin ataupun panas
Lisan adalah kehidupan
dan lisanlah peranan kehidupan
di dalam dunia
dan di luarnya
Adalah rindu yang meredam lisan
adalah sendu yang memendam lisan
adalah kelu yang menawan lisan
Apakah kematian juga akhir seutas lisan?
Kita mesti banyak belajar-agaknya-
agar berperan
Tanpa lisan kitakah penonton?
Adalah rindu yang meredam lisan
adalah sendu yang memendam lisan
adalah kelu yang menawan lisan
adalah manusia perankan tokoh lisan
Ada apa di balik lisan yang rindu
ada apa di balik lisan yang sendu
ada apa di balik lisan yang kelu
: di balik wajah wajah tak berdarah
: di balik wajah wajah resah?
Ke mana mana lisan ada
di mana mana lisan berada
dalam kehidupan
dalam kematian
dan kehidupan kembali
Lisanlah kehidupan
setelah kematian
Dalam kehidupan lisan menghidupkan
dalam kehidupan lisan mematikan
dalam kehidupan lisan bermain
dan berperan
: segala watak dan keinginan
Hiduplah mereka berlisan
hiduplah mereka yang berperan
hiduplah mereka yang berkuasa
sebab lisan tergenggam tangan
sebab lisan terpeluk pelatuk
siap membidik dan meletup
Hiduplah mereka yang berkata
dan berkata kata
sebab mereka penguasa
sebab mereka berkuasa
sebab mereka pemegang senjata
Ada apa di balik lisan yang berduka
ada apa di balik wajah yang terluka
Ada apa di balik jiwa yang menderita
Lisankah yang bertanya?
Lisanlah yang berkata
sebab lisan punya nama
sebab lisan punya jiwa
sebab lisan punya kuasa
Lisan tak mudah berkata kata
di angkasaraya
sebab mega mega
terkepung badai
: meski mega membawa hujan
meski mega menjanjikan kehidupan
meski hujan dinanti nantikan:
agar wajah wajah resah cerah
agar wajah wajah wajah sendu merah bersemu
agar jiwa jiwa redup hidup
agar badai tak menghalang hujan
agar hujan memberikan kehidupan
tapi, siapakah pemilik lisan
tapi, siapakah pemilik nama
tapi, siapakah pemilik jiwa
tapi, siapakah pemilik hidup
tapi, siapakah pemilik kuasa
tapi, siapakah pemilik siapa?
pontianak, 1993
LANJUT BEB..
ITU SAJA
Kemarin kau ucapkan kata yang sama
begitu indah rangkaian bunyinya
aku terpana
hingga lupa penderitaan
yang mengental di jiwa
Kata indah yang terucap
meruntuhkan pilar yang tertancap
mengguncang bumi tempat berpijak
menghambur satwa-satwa tanpa arah
hanya kau
dan aku
Kemarin terpana penderitaan
dibius harum bunga penuh kumbang
Hari ini matahari tak lagi
bersahabat denganmu tak lagi
dekati harum bunga
membius
Kata-kata kehilangan keindahan
kata-kata bermain sendirian
tanpa teman
tanpa nada
tanpa makna
Penderitaan telah bosan
dengan keindahan kata-kata
Penderitaan menanti matahari
menyubur benih menuai buah
Itu saja.
pontianak, 26/10/92 LANJUT BEB..
begitu indah rangkaian bunyinya
aku terpana
hingga lupa penderitaan
yang mengental di jiwa
Kata indah yang terucap
meruntuhkan pilar yang tertancap
mengguncang bumi tempat berpijak
menghambur satwa-satwa tanpa arah
hanya kau
dan aku
Kemarin terpana penderitaan
dibius harum bunga penuh kumbang
Hari ini matahari tak lagi
bersahabat denganmu tak lagi
dekati harum bunga
membius
Kata-kata kehilangan keindahan
kata-kata bermain sendirian
tanpa teman
tanpa nada
tanpa makna
Penderitaan telah bosan
dengan keindahan kata-kata
Penderitaan menanti matahari
menyubur benih menuai buah
Itu saja.
pontianak, 26/10/92 LANJUT BEB..
SEBELUM LUPA
Sebelum lupa
hingga hari hanya hampa
terimalah kata kata:
nista
hina
dosa
duka
dia
Sebelum lupa
ucapkan selamat tinggal
gali kenangan kubangan dosa tanpa kata kata!
Butakan mata
Tulikan telinga
Lumpuhkan raga
Hilangkan rasa
Matikan jiwa
sebelum lupa
apa
di mana
siapa
ke mana
tanpa kata kata
tanpa jiwa
tanpa dia;
siapa
di mana
singkirkan tanya
sebelum lupa
lupa
lupa
lupa
siapa luka
siapa luka
siapa duka
siapa dosa
tanya
sebelum lupa.
Pontianak, 10/92 LANJUT BEB..
hingga hari hanya hampa
terimalah kata kata:
nista
hina
dosa
duka
dia
Sebelum lupa
ucapkan selamat tinggal
gali kenangan kubangan dosa tanpa kata kata!
Butakan mata
Tulikan telinga
Lumpuhkan raga
Hilangkan rasa
Matikan jiwa
sebelum lupa
apa
di mana
siapa
ke mana
tanpa kata kata
tanpa jiwa
tanpa dia;
siapa
di mana
singkirkan tanya
sebelum lupa
lupa
lupa
lupa
siapa luka
siapa luka
siapa duka
siapa dosa
tanya
sebelum lupa.
Pontianak, 10/92 LANJUT BEB..
PENJARA
Dalam jeruji membuncah tanya dalam hati
lupakan sarapan pagi seonggok kangkung
sepiring nasi
basi
Dalam jeruji terkurung
hati nurani
mati
Kebebasan di balik jeruji
adalah pilihan sebelum mati
pandangi mata tanpa nurani
dengarkan petuah tanpa gigi
ikuti langkah tanpa kaki
alunkan desah tanpa onani
makanlah dendeng monyet kraton besi
tanpa tanya sipir banci
Rimba subur di balik jeruji
tertancap berjuta duri
tertimbun rimbun indah anggrek hutan
menyejuk mata menyiksa hati
menghalang langkah menusuk kaki
menyembur darah tanpa arti
Kebebasan di balik jeruji
adalah pilihan sebelum mati
nikmatilah dendeng monyet kraton besi
inilah dongeng negeri sialan
bercerita penuh bualan
menjanjikan sejuta tipuan
menabur benih racun kematian
tanpa tanya sipir karatan
Dalam jeruji hati selalu bertanya: kapan?
Pontianak, Oktober '92 LANJUT BEB..
lupakan sarapan pagi seonggok kangkung
sepiring nasi
basi
Dalam jeruji terkurung
hati nurani
mati
Kebebasan di balik jeruji
adalah pilihan sebelum mati
pandangi mata tanpa nurani
dengarkan petuah tanpa gigi
ikuti langkah tanpa kaki
alunkan desah tanpa onani
makanlah dendeng monyet kraton besi
tanpa tanya sipir banci
Rimba subur di balik jeruji
tertancap berjuta duri
tertimbun rimbun indah anggrek hutan
menyejuk mata menyiksa hati
menghalang langkah menusuk kaki
menyembur darah tanpa arti
Kebebasan di balik jeruji
adalah pilihan sebelum mati
nikmatilah dendeng monyet kraton besi
inilah dongeng negeri sialan
bercerita penuh bualan
menjanjikan sejuta tipuan
menabur benih racun kematian
tanpa tanya sipir karatan
Dalam jeruji hati selalu bertanya: kapan?
Pontianak, Oktober '92 LANJUT BEB..
DI BAWAH TERANG SINAR BULAN
Jangkrik bersenandung malam
sinar bulan terang
membiaskan kegundahan
hati seorang anak Adam
matanya enggan terpejam
sementara jari jarinya
menari mencurahkan isi hati
luapkan gumpalan gumpalan
sanubari merangkai kata
dalam bait bait puisi
Anak Adam gundah
dalam senandung malam
jangkrik jangkrik
di bawah sinar terang bulan
ia tatap selimut bumi
renungkan segala kebesaranNya
mencatat segala dosanya
Lewat bait bait kata
ia teteskan air matanya
ia mencaci maki napsunya
ia kikis habis keangkuhannya
ia laknati kesombongannya
Lewat bait bait puisi
ia tuntaskan kemarahannya
ia lepaskan kemurkaannya
pada dirinya sendiri
yang tak pernah tahu diri
akan kemurahan Khaliknya
yang menabur rezeki
memberi kenikmatan
Di bawah terang sinar bulan
kegelapan hatinya berdoa akan kesucian
pada Sang Pemilik ia rangkaikan pujian
yang memberinya keindahan
pontianak, 21 agustus 1992
LANJUT BEB..
sinar bulan terang
membiaskan kegundahan
hati seorang anak Adam
matanya enggan terpejam
sementara jari jarinya
menari mencurahkan isi hati
luapkan gumpalan gumpalan
sanubari merangkai kata
dalam bait bait puisi
Anak Adam gundah
dalam senandung malam
jangkrik jangkrik
di bawah sinar terang bulan
ia tatap selimut bumi
renungkan segala kebesaranNya
mencatat segala dosanya
Lewat bait bait kata
ia teteskan air matanya
ia mencaci maki napsunya
ia kikis habis keangkuhannya
ia laknati kesombongannya
Lewat bait bait puisi
ia tuntaskan kemarahannya
ia lepaskan kemurkaannya
pada dirinya sendiri
yang tak pernah tahu diri
akan kemurahan Khaliknya
yang menabur rezeki
memberi kenikmatan
Di bawah terang sinar bulan
kegelapan hatinya berdoa akan kesucian
pada Sang Pemilik ia rangkaikan pujian
yang memberinya keindahan
pontianak, 21 agustus 1992
LANJUT BEB..
Langganan:
Postingan (Atom)
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved
