Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

LAHIR TAK BERTANAH

Geriap tangis bayi mengoyak fajar dini
mencoba teriakkan kemerdekaan yang pertama

Ia tak merangkak
tak pula mengibaskan tangan
; buat protes
sebab tangisnya dikembalikan
ia tak sanggup melawan
sebab sumsumnya dibalut
tulang tulang rawan

Geriap tangis bayi berkepanjangan
tak sanggup membangunkan ibunya
; baru saja selesai berjuang

ia tak merangkak
tak pula dapat meredam keangkuhan alam
sebab jubah jubah malaikat
makin erat membalutnya

tangis itu
bayi itu
lahir tak bertanah
; tanah tempat ibunya dilahirkan
tanah moyangnya dibesarkan
tanah yang dulu terjajah
tanah yang dulu subur disiram darah
kini diinjak injak penjajah
yang juga keturunan ibu dan moyangnya

ptk, 8/93 LANJUT BEB..

KUTULIS SAJAK

Kutulis sajak
pilihan penampang
mencurahkan nurani

Kutulis sajak
menangkap riak
mengapung
mengambang
di muara jiwa

Kutulis sajak
persinggahan terakhir
menuntaskan rasa
bagi hidup yang hidup

ptk, 27/6/93 (04.00) LANJUT BEB..

RINDU

rindu
rindu
rinduku mati rasa
rasaku rindu
rasa
rasa
rasa mati
mati
ku
rasa
rindu
mati ku rasa rindu
rindu ku rasa mati
rindu kurasa mati
mati ku rasa rindu
kurindu rasa mati
matiku rindu rasa
rasa matiku rindu
rindu
ku
rasa
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
.....
mati.

ptk, 19/5/93 LANJUT BEB..

PEREMPUANKU, KEKASIHKU

ke mana arah?
perahu mengalun tinggalkan pantai
lambai tangan kekasih terlihat samar
hantar camar camar mengiring langkah

ombak di buritan
angin di kepala
tujukan perahu ke pulaumu

ah, kekasih
semakin jauh ditinggalkan
tiada lagi gerai rambutmu
tiada lagi bayang dirimu
bibir pantai tlah jatuh di lengkung ombak
pulaumu tlah sampai di pelupuk mata

ke mana arah?
masihkah kau di seberang?
aku ingin pulang
tapi bulan menghalang pandang

tepian kapuas, 22/4/93
(02.48 wib) LANJUT BEB..

ZIARAH MERAH PUTIH

buat Chairil Anwar

I
Kerap april menusuk sukma
mengajak gerak mengepak sayap
menyentak gejolak semangat tersendat
kemasi puisi menuntas bias

Tiap april menjelang
kenangan makin membayang
terpampang terpancang
mendekat pekat melekat rapat
mengajak gerak mengepak sayap
menyentak gejolak semangat tersendat
menuntas bias kemasi puisi

II
Sesosok jiwa muda
dalam diam mencoba
badaikan riak getar seni
meretak adat mendobrak tradisi

Kaulah Chairil Anwar
warisan tanah luas terhampar
Kaulah Chairil Anwar
warisan negeri yang sedang mekar

Karna penjajah semakin liar
arus penamu tak pernah gentar
tarikan hati nurani
nilaikan bait-bait puisi
simpatikan genderang perang
rangsangkan di dada-jiwa pejuang

III
Chairil Anwar
warna langit mendadak kelam
lambangkan hati penuh duka
kala kau terbaring menanti sang maut

Seminggu kau menunggu
di kasur putih mengharu biru
sesak napasmu lemah tubuhmu
namun padaNya tak lupa engkau

Sore setengah tiga
empat sembilan dua delapan april
kau hembuskan napas terakhir
--matahari bergulir--
tinggalkan fana
tinggalkan dunia
tinggalkan karya tujuh tahun
innalillahi wainna ilaihi rojiun

IV
Chairil Anwar
kau mati muda
dua tujuh ketika itu
tapi janji tak bisa ditawar
meski katamu:
"Aku mau hidup seribu tahun lagi!"

V
Di Karet kau terbaring sepi sendiri
tapi kaupunya jiwa tetap membara
; kau yang pertama
mendobrak tradisi
berkata menurut rasa
di dadamu menyala bara api
di penamu mengalir sajak-sajak
menyalak
menghentak
meski kadang manis romantis

Chairil Anwar
di sini aku berdiri
alirkan riak seni lewat puisi
seperti di jiwamu terpatri:
"Sekali berarti sudah itu mati!"

Pontianak, 8 April 1993 LANJUT BEB..
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved