Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

CATUR

Skak!
kepepet Raja
kasak kusuk Perwira
Menteri maju membela
tapi dijegal Kuda
Gajah coba menghalang
tapi Benteng siap menghadang
Bidak Cuma melirik
tak bisa naik

Skak!
Mat!
Raja wafat
kotak dilipat

Perwira tak sempat menjilat!

ptk, 1994 LANJUT BEB..

LAHIR TAK BERTANAH

Geriap tangis bayi mengoyak fajar dini
mencoba teriakkan kemerdekaan yang pertama

Ia tak merangkak
tak pula mengibaskan tangan
; buat protes
sebab tangisnya dikembalikan
ia tak sanggup melawan
sebab sumsumnya dibalut
tulang tulang rawan

Geriap tangis bayi berkepanjangan
tak sanggup membangunkan ibunya
; baru saja selesai berjuang

ia tak merangkak
tak pula dapat meredam keangkuhan alam
sebab jubah jubah malaikat
makin erat membalutnya

tangis itu
bayi itu
lahir tak bertanah
; tanah tempat ibunya dilahirkan
tanah moyangnya dibesarkan
tanah yang dulu terjajah
tanah yang dulu subur disiram darah
kini diinjak injak penjajah
yang juga keturunan ibu dan moyangnya

ptk, 8/93 LANJUT BEB..

KUTULIS SAJAK

Kutulis sajak
pilihan penampang
mencurahkan nurani

Kutulis sajak
menangkap riak
mengapung
mengambang
di muara jiwa

Kutulis sajak
persinggahan terakhir
menuntaskan rasa
bagi hidup yang hidup

ptk, 27/6/93 (04.00) LANJUT BEB..

RINDU

rindu
rindu
rinduku mati rasa
rasaku rindu
rasa
rasa
rasa mati
mati
ku
rasa
rindu
mati ku rasa rindu
rindu ku rasa mati
rindu kurasa mati
mati ku rasa rindu
kurindu rasa mati
matiku rindu rasa
rasa matiku rindu
rindu
ku
rasa
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
rindu
.....
mati.

ptk, 19/5/93 LANJUT BEB..

PEREMPUANKU, KEKASIHKU

ke mana arah?
perahu mengalun tinggalkan pantai
lambai tangan kekasih terlihat samar
hantar camar camar mengiring langkah

ombak di buritan
angin di kepala
tujukan perahu ke pulaumu

ah, kekasih
semakin jauh ditinggalkan
tiada lagi gerai rambutmu
tiada lagi bayang dirimu
bibir pantai tlah jatuh di lengkung ombak
pulaumu tlah sampai di pelupuk mata

ke mana arah?
masihkah kau di seberang?
aku ingin pulang
tapi bulan menghalang pandang

tepian kapuas, 22/4/93
(02.48 wib) LANJUT BEB..
E
D
O
Copyright @ 2009
Edo Pradana Prasitha.
All Right Reserved